ekonomi

Sri Mulyani Akui Pemungutan Pajak Era Digital Sulit

Menteri Keuangan Sri Mulyani indrawati mengakui bahwa pemungutan pajak di era digital memang cukup pelik untuk dilakukan. Namun, hal itu tak hanya berlaku pada Indonesia saja, melainkan fenomena global yang juga dirasakan oleh negara-negara besar di dunia seperti negara anggota G20.

“Saya ingin tegaskan tidak ada perlakuan perpajakan yang berbeda antara perusahaan konvensional dengan yang sifatnya perusahaan digital. Dalam pertemuan G20 ini kita sedang bahas bagaimana agar bisa untuk membuat kerangka perpajakan yang adil untuk meng-capture bisnis digital,” tuturnya di Jakarta, Selasa (11/6).

Melihat fenomena ini, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa negara G20 meminta negara anggota OECD untuk melakukan kajian atas pemungutan pajak di era digital.

“Kegiatan bisnis digital itu bisnis modelnya berbeda dengan non digital karena mereka tidak harus memiliki BUT atau permanent establishment di suatu negara atau yurisdiction sehingga bisa beroperasi di lintas negara,” ujarnya.

“Jadi itu yang membuat kesulitan karena basis pajak adalah kehadiran perusahaan secara fisik. Tapi perusahaan digital bisa lakukan tanpa buat cabang atau permanent establisment. Jadi ini tidak hanya di Indonesia saja. Sehingga kehadiran secara fisik tidak bisa lagi dijadikan acuan,” tambahnya.

kunjungi pokerdell.com untuk mengetahui lebih jelas tentang agen poker online terpercaya